Menteri Bintang Ajak Pemilih Pemula Jalankan Peran Pelopor dan Pelapor dalam Pemilu 2024

Meg and Mums, Jakarta – Generasi muda berhak memilih pada pemilu 2024 sebagai pemilih pemula.

Jelang Pesta Demokrat pada 14 Februari 2024, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga menghimbau para pemilih pemula untuk menjadi pemilih yang cerdas. Dengan meningkatkan kesadaran akan hak pilih dan melaksanakan hak pilih tersebut.

“Pembentukan politik nasional memerlukan proses pembelajaran yang sangat panjang. Oleh karena itu, proses pembelajaran hendaknya dimulai sejak usia dini dengan memperhatikan tahap perkembangan dan kecerdasan anak, kata Bintang, Rabu /2024.07.

Dengan cara ini, anak-anak dapat dididik untuk memandang politik secara positif dan berkontribusi dalam menciptakan kehidupan negara yang lebih baik, lanjutnya.

Bintang berpesan, sebagai pemilih baru, dirinya ingin agar anak-anak selalu berperan sebagai 2P (Pelopor dan Reporter) pada pemilu 2024 agar menjadi warga negara yang aktif.

“Pada pemilu 2024, para pemilih muda baru harus lebih termotivasi untuk menjadi pemilih yang cerdas dan berperan aktif dalam pengawasan pemilu,” kata Bintan.

Sebagai pionir, ia berharap agar seluruh pemilih pemula dapat menggiring kawan-kawannya untuk menggunakan hak pilihnya secara bijak sebagai warga negara, bukan golput (orang kulit putih).

Bagi jurnalis, Forum Anak dan generasi muda juga diharapkan berkontribusi terhadap pemilu yang jujur ​​dan adil.

“Anda harus yakin bahwa lima menit yang Anda habiskan di bilik suara akan menentukan masa depan bangsa Indonesia,” kata Bintang.

Menurut Panitia Pemilihan Umum (2023), terdapat 204,8 juta pemilih pada tahun 2024, 25 juta di antaranya merupakan pemilih pemula (usia 17-25). Namun beberapa kajian penelitian seperti Indikator Politik Indonesia (2021) menunjukkan bahwa pandangan anak muda terhadap politik cenderung pesimistis.

Bintan mengatakan, hasil survei menunjukkan anggapan generasi muda bahwa politisi dan partai politik kurang pandai dalam menyampaikan aspirasi masyarakat. Hal ini dapat mengurangi keterlibatan dan minat pemilih pemula di Partai Demokrat.

Remaja dan generasi muda yang saat ini tergolong pemilih pemula, mungkin tidak tertarik mengikuti pemilu karena beberapa hal, seperti: Masih kurangnya pengetahuan komprehensif tentang kehidupan berbangsa di kalangan remaja dan generasi muda, termasuk pemilih pemula. Kurangnya pengetahuan tentang hak-hak warga negara Kurangnya pemahaman tentang manfaat politik, demokrasi dan pemilu.

Untuk itu perlu adanya perhatian khusus terhadap peningkatan kesadaran dan partisipasi generasi muda dalam proses demokrasi.

Nabiel, Wakil Ketua Forum Anak Nasional (FAN) periode 2023-2025, meminta para pemilih pemula untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu 14 Februari mendatang.

“Sebagai anak-anak, pemilu adalah momen untuk memilih pemimpin yang bisa mewakili suara kita.” Jadi kita harus menghargai perbedaan pendapat, ada nilai-nilai Pancasila dalam menyelenggarakan pemilu.

“Saya sangat berharap pada tahun 2024, kita akan menyelenggarakan pemilu yang adil dan transparan dan pemilih baru akan berpartisipasi aktif dalam proses pemilu sambil mendorong pemilu ramah anak,” kata Nabiel.

Sementara itu, Heroik Mutakin, pengamat politik dari Masyarakat untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), menghimbau para pemilih baru untuk menjadi pemilih yang cerdas dan berdaya.

Mereka harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang politik, demokrasi dan pemilu. Dengan begitu, ketika tiba waktunya untuk memilih, mereka siap berpartisipasi sesuai hati nuraninya dan menggunakan hak pilihnya dengan bijak.

Sekalipun Anda seorang pemilih muda, jangan takut untuk terlibat dalam politik. Karakter pemilih pemula adalah menjadi pemilih yang kritis, cerdas, dan adil. Memilih di Indonesia bersifat sukarela. “Jadi mari kita ke TPS, mari kita pilih selama lima menit dan lima tahun ke depan untuk rakyat Indonesia,” pungkas Heroik.